Minggu, 08 April 2012

Cinta vs Suka


Di hadapan orang yang kita cinta, hati kita akan berdegup kencang.
Tapi di depan orang yang kita suka, hati kita akan gembira.

Di depan orang yang kita cinta, musim sentiasa berbunga-bunga.
Di depan orang yang kita suka, musim itu cuma berangin saja.

Jikalau kita lihat di dalam mata orang yang kita cinta, kita akan kaku.
Jikalau kita melihat mata orang yang kita suka, kita akan tersenyum.

Di depan orang yang kita cinta, lidah kelu untuk berkata-kata.
Di depan orang yang kita suka, lidah bebas berkata apa saja.




Di depan orang yang kita cinta, kita menjadi malu.
Di depan orang yang kita suka, kita akan tunjukkan imej yang sebenar.

Kita tidak boleh merenung mata orang yang kita cinta.
Tapi kita selalu merenung mata orang yang kita suka.

Bila orang yang kita cinta menangis, kita akan turut menangis.
Bila orang yang kita suka menangis, kita akan membuat dia gembira.

Perasaan cinta bermula dari kata.
Perasaan suka bermula dari telinga.



Jadi, jikalau kita berhenti menyukai seseorang yang kita suka. Umpama kita membuang telinga kita. Tapi jika kita cuba menutup mata. Cinta berbuah menjadi airmata. Setiap orang akan mengalami ini dalam hidup mereka.

Cuma fikirkanlah bersama-sama siapa yang anda cinta....



oleh: nuQman

Kamis, 05 April 2012

Waspadai Nyeri Lambung


Ditengah kesibukan dan aktifitas kita sehari-hari, terkadang kita mengalami gangguan nyeri dilambung. Nyeri lambung atau 'dispepsia' sebaiknya tidak diremehkan. Segeralah periksakan ke dokter bila hal itu terjadi berulang-ulang. Nyeri lambung adalah gangguan pencernaan yang mengenai saluran cerna bagian atas, termasuk diantaranya perasaan tidak enak atau nyeri pada ulu hati atau disebut 'epigastrium' mungkin juga bagian tulang belakang dada atau yang disebut 'retrosternum' Rasa panas seperti terbakar pada ulu hati dan rasa mual serta muntah tanpa adanya keadaan patologis pada organ. Prevalensi dispepsia bervariasi untuk berbagai penelitian tergantung definisi, kriteria yang berguna.

Telah lama riset secara akademik yang menghubungkan peristiwa mental dengan gangguan tubuh tetapi masih sedikit data yang menyokong observasi itu. Teori Freud, dalam histeria konversi mengatakan gejala somatik adalah simbol ekspresi konflik di dalam diri seseorang. Sementara Weiss dan English menyebutkan gejala psikosomatik terjadi pada organ oleh sistem syaraf otonom dalam keadaan fisiologis ini disertai konflik yang ditekan di alam bawah sadar dan adanya faktor predsposisi dari konstitusi fisik yang diturunkan secara genetik. Misalnya diare dan muntaber diartikan sebagai membersihkan diri dari perasaan berdosa, asma sebagai 'symbolic crying' sedangkan nyeri lambung merupakan wujud gangguan cemas menyeluruh.

Lantas bagaimana untuk menyembuhkan nyeri lambung? Bagi anda yang menderita maag, bila dokter tidak menemukan adanya gangguan fisik, maka erat kaitannya dengan emosi anda. Biasanya yang terjadi adalah sering memendam marah, kekecewaan, kesedihan dan juga perasaan berdosa. Sebaiknya lakukanlah sholat lima waktu dengan tepat waktu dan juga diimbangi dengan berdzikir setiap saat seperti dengan memperbanyak hamdalah atau 'alhamdulilah' karena sholat dan dzikir adalah relaksasi untuk menurunkan kadar andrenalin sehingga pengeluaran asam lambung berkurang. Sholat dan dzikir juga baik untuk menghindari ketergantungan obat. Yang paling penting bagi anda yang menderita nyeri lambung adalah belajarlah untuk menerima apapun yang telah terjadi dan mensyukuri hidup ini sebagai wujud kasih sayang Allah kepada kita. Insya Allah, menyembuhkan nyeri lambung anda.

'Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.' (QS. al-Baqarah : 153).

Selasa, 03 April 2012

C . I . N . T . A



Dalam hadits Qudsi Allah berfirman:
 “Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang saling mencintai karena Aku. Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang saling memberi karena Aku. Cinta-Ku pasti untuk orang-orang yang menyambung hubungan (silaturahmi) karena Aku.”
 “Sesungguhnya Allah swt. berfirman pada hari kiamat: “Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini akan Aku naungi (tolong) mereka, dimana tidak ada naungan (pertolongan) yang lainselain dari-Ku.” 
(HR. Muslim)
 "Allah berkata, `Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya dan didoakan oleh para nabi dan orang-orang yang mati syahid'."
 (HR. Tirmidzi) 




Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah, ada diantara mereka yang orang-orang bukan nabi dan bukan pula syuhada.  
Pada hari kiamat, para nabi dan syuhada menginginkan mereka menempati kedudukan mereka yang berasal dari Allah.
 Para sahabat bertanya, "Wahai Rasullulah. Beritahukanlah kepada kami, siapakah mereka itu?"….
Beliau menjawab,"Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, bukan karena pertalian darah dan tidak ada harta yang saling diberikan. Sungguh demi Allah, wajah mereka laksana cahaya.
 Dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasa takut saat manusia merasa takut dan mereka tidak bersedih saat manusia bersedih". 
 (HR. Abu Daud)



 
Dari Hadist, Nabi SAW bersabda; Walladziyna nafsiy biyadihi laatadkhuluwljannata hatta tu’minuw walaatu’minuw hatta tahaabbuw awalaa adullukum ‘alaa syai’in idzaa fa’altumuwhu tahaababtum? Afsyuwssalaama baynakum. 
[“Demi diriku yg ditangan (kekuasaan) Allah, tidak dapatlah kamu memasuki Surga kecuali dengan beriman dan belumlah kamu beriman kecuali dengan saling menyayangi sesamamu.
 Maukah ku tunjukkan padamu sesuatu yang jika kamu melaksanakannya maka kamu akan menjadi berkasih sayang?  
Maka ucapkanlah salam diantara kamu,
 (HR Muslim)



Kamis, 29 Maret 2012

Etika Mencari Nafkah

“Cari nan haram saja susah apalagi cari nan halal”

Ungkapan di atas seolah telah menjadi legalitas utk mencari harta dgn cara-cara nan tak halal. Begitulah sebagian kenyataan nan terjadi di tengah masyarakat. Khususnya, dlm urusan mencari rezeki, hanya sedikit nan mau peduli dgn rambu-rambu syari'at.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan perilaku semacam ini sebagaimana tersebut dlm hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahwa Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tak lagi peduli dgn cara utk mendapatkan harta, apakah melalui cara nan halal ataukah dgn cara nan haram”. [HR Bukhari].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menyampaikan ancaman terhadap orang-orang nan memakan harta nan haram. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Sesungguhnya tak akan masuk surga daging nan tumbuh dari harta nan haram. Neraka lebih pantas untuknya”. [HR Ahmad & Ad Darimi].

Di dlm Al Qur'an, Allah marah terhadap orang-orang Yahudi, karena sifat mereka nan suka memakan harta haram. Allah berfirman:

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

“Mereka itu adalah orang-orang nan suka mendengar berita bohong, (lagi) banyak memakan nan haram”. [Al Maidah:42].

Al Qurthubi, dlm tafsirnya menyebutkan, bahwa salah 1 bentuk memakan nan haram adalah menerima suap.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menekankan agar umatnya mencari harta nan halal. Pasalnya, ada 2 pertanyaan nan terarah berkaitan dgn harta itu, tentang asal harta & bagaimana membelanjakannya. Dalam hadits Abu Barzah Al Aslami Radhiyallahu 'anhu, beliau bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا وَضَعَهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ

“Tidak akan bergeser tapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat, sampai ia ditanya tentang 4 perkara. (Yaitu): tentang umurnya utk apa ia habiskan, tentang jasadnya utk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya & kemanakah ia meletakkannya, & tentang ilmunya, apakah nan telah ia amalkan”. [HR At Tirmidzi & Ad Darimi].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita ini dlm banyak hadits, urgensi mencari rezeki nan halal ini. Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda (artinya): Tidak ada 1 pun amalan nan mendekatkan kalian ke surga, melainkan telah aku perintahkan kalian kepadanya. & tak ada 1 pun amalan nan mendekatkan kalian ke neraka, melainkan aku telah melarang kalian darinya. Janganlah kalian menganggap rezeki kalian terhambat.

Sesungguhnya, Malaikat Jibril telah mewahyukan ke dlm hati sanubariku, bahwa tak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezekinya. Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dgn cara nan baik. Jika ada nan merasa rezekinya terhambat, maka janganlah ia mencari rezki dgn berbuat maksiat, karena karunia Allah tidaklah di dapat dgn perbuatan maksiat. [HR Al Hakim & selainnya].

Demikian pula hadits Jabir Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda:

لاَ تَسْتَبْطِئُوْاالرِّزْقَ, فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوْتَ العَبْدُ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ رِزْقٍ هُوَ لَهُ, فَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ, أَخْذِ الحَلاَلِ وَ تَرْكِ الحَرَامِ

“Janganlah menganggap rezki kalian lambat turun. Sesungguhnya, tak ada seorang pun meninggalkan dunia ini, melainkan setelah sempurna rezkinya. Carilah rezki dgn cara nan baik (dengan) mengambil nan halal & meninggalkan perkara nan haram”. (*1)

Hadits-hadits di atas memerintahkan kita ini agar memeriksa setiap rezeki nan telah kita ini peroleh. kita ini harus bersiap diri dgn 2 pertanyaan, darimana harta itu diperoleh & kemana dibelanjakan? Oleh karena itu, kita ini mesti mengambil nan halal & menyingkirkan nan haram. Bahkan harta nan mengandung syubhat, hendaknya juga kita ini jauhi.

Dalam sebuah hadits dari An Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah menyatakan:

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“Sesungguhnya nan halal itu jelas & nan haram juga jelas. Diantara keduanya ada perkara-perkara syubhat nan tak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa nan menjaga diri dari perkara syubhat, berarti ia telah menyelamatkan agama & kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus dlm perkara syubhat, maka ia akan terjerumus kepada perkara haram”. [Muttafaqun 'alaihi].

Rasulullah Shalallalhu 'alaihi wa sallam & para sahabat telah mencontohkan prinsip penting tersebut secara langsung. Betapa ketatnya mereka dlm memperhatikan urusan rezeki ini. Mereka selalu memastikan dgn sungguh-sungguh, apakah rezeki nan mereka peroleh itu halal lagi baik, ataukah haram.

Dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik Radhiayallahu 'anhu diceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendapat kurma di jalan. Maka Beliau bersabda:

لَوْلَا أَنْ تَكُونَ مِنْ صَدَقَةٍ لَأَكَلْتُهَا

“Andaikata saya tak khawatir kurma itu dari harta sedekah, niscaya saya makan”. [Muttafaqun 'alaihi]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah, bahwa Beliau Shallallahu 'alaiohi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَنْقَلِبُ إِلَى أَهْلِي فَأَجِدُ التَّمْرَةَ سَاقِطَةً عَلَى فِرَاشِي فَأَرْفَعُهَا لِآكُلَهَا ثُمَّ أَخْشَى أَنْ تَكُونَ صَدَقَةً فَأُلْقِيهَا

“Saat aku pulang ke rumah, aku dapati sebutir kurma jatuh di atas tempat tidurku. Kemudian kurma itu kuambil utk kumakan. Namun aku khawatir kurma itu adalah kurma sedekah (zakat), maka aku pun membuangnya. (*2)

Masih dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: Al Hasan bin Ali Radhiyallahu 'anhum mengambil sebiji kurma dari harta zakat, lalu memasukkannya ke dlm mulutnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: “Cih, cih” (*3) yaitu mengeluarkan & membuangnya. Kemudian Beliau berkata:

أَمَا شَعَرْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ

“Tidakkah engkau tahu bahwa kita ini tak boleh memakan harta zakat?”. (*4)

Diriwayatkan dari Abul Hauraa', bahwa ia bertanya kepada Al Hasan Radhiyallahu 'anhuma: “Adakah sesuatu nan engkau ingat dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ?” Al Hasan menjawab,”Aku masih ingat, (yaitu) ketika aku mengambil sebiji kurma dari harta zakat, lalu aku masukkan ke dlm mulutku.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengeluarkan kurma itu beserta saripatinya, lalu mengembalikannya ke tempat semula. Ada nan berkata: ‘Wahai, Rasulullah. Tidaklah mengapa kurma itu dimakan oleh bocah kecil ini?' Rasulullah n berkata: ‘Sesungguhnya, keluarga Muhammad tak halal memakan harta zakat'. “

Ini merupakan sikap wara', menghindari sesuatu nan masih meragukan statusnya. Dan coba lihat, bagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendidik cucu Beliau, Al Hasan agar tak memakan dari harta nan haram. Begitu pula para sahabat.
'Aisyah Radhiyallahu 'anha bercerita, bahwa Abu Bakar memiliki budak nan ditugaskan harus membawa bekal untuknya setiap hari. Dan Abu Bakar selalu makan dari bekal itu. Pada suatu hari, budak itu datang membawa makanan. Maka Abu Bakar menyantapnya. Kemudian budak itu bertanya: “Tahukah tuan, darimana makanan itu?” Abu Bakar balik bertanya,”Mengapa?” Budak itu berkata,”Pada masa jahiliyah dahulu, aku pernah berlagak menjadi dukun utk mengobati seseorang, padahal aku tak mengerti perdukunan, hanya semata-mata utk menipunya. Lalu ia bertemu lagi denganku & memberiku makanan nan engkau makan itu,” Maka spontan Abu Bakar memasukkan jarinya ke dlm mulut & mengorek-ngoreknya sehingga memuntahkan semua isi perutnya”. [HR Bukhari].

Syariat juga memperhatikan hal-hal semacam ini, yaitu anjuran meninggalkan sesuatu nan masih diragukan status kehalalannya demi menjaga diri dari perkara haram.
Diriwayatkan dari 'Adi bin Hatim Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku:

إِذَا أَرْسَلْت كَلْبَكَ فَاذْكُرِ اسْمَ اللّهِ عَلَيْهِ، فإنْ أمْسَكَ عَلَيْكَ فأَدْرَكْتَهُ حَيّاً فاذْبحهُ، وَإِنْ أَدْرَكْتهُ قَدْ قَتَلَ وَلَمْ يَأْكُلْ مِنْهُ فَكُلْهُ، وَإنْ وَجَدْتَ مَعَ كَلْبِكَ كَلْباً غَيْرهُ وَقَد قَتَلَ فَلاَ تأكُلْ، فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي أَيُهُما قَتَلَهُ

“Apabila kamu lepaskan anjingmu, maka ucapkanlah bismillah. Jika ia menangkap seekor hewan buruan nan masih hidup untukmu, maka sembelihlah hewan tersebut. Apabila kamu dapati hewan itu sudah mati, sementara anjing itu tak memakannya, maka silahkan makan. Tetapi apabila kamu dapati ada anjing lain nan ikut membunuh hewan buruan itu, maka jangan kamu makan, karena kamu tak tahu anjing mana nan telah membunuh hewan tersebut”. [Muttafaqun 'alaihi].

Sebab, ada kemungkinan anjing lain nan ikut membunuh hewan tersebut tak dilepas dgn mengucapkan bismillah sehingga tak halal dimakan.

PRASYARAT MENCARI NAFKAH

Seseorang nan akan mencari nafkah, baik sebagai pedagang, pekerja upahan, pegawai atau profesi lainnya, hendaklah memperhatikan 2 perkara penting berikut ini:

Pertama: Ilmu.
Berilmu sebelum berkata & berbuat Ini adalah prinsip nan sudah disepakati bersama. Namun dlm prakteknya, prinsip ini hanya tinggal prinsip. Berapa banyak orang-orang nan menganut prinsip ini, justru melanggarnya, apalagi orang-orang nan tak mengetahuinya.

Demikian pula dlm masalah jual beli. Seseorang hendaklah memahami apa saja nan wajib dia ketahui berkaitan dgn amalan nan akan dia kerjakan.

Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu 'anhu pernah melarang para pedagang (pelaku pasar) nan tak mengetahui hukum-hukum jual beli utk memasuki pasar. Minimal, ia harus mengerti hal-hal penting nan wajib diketahuinya. Sebagai contoh, sebagai pedagang, ia harus mengetahui waktu-waktu larangan utk berjual beli. Misalnya, pada waktu akan ditunaikan shalat Jum'at. Dasarnya ialah firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang nan beriman, apabila diseru utk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah & tinggalkanlah jual beli. nan demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. [Al Jumu'ah: 9].

Demikian pula, ia mesti tahu tempat-tempat larangan utk berjual beli, masjid misalnya. Dasarnya ialah hadits riwayat ‘Abdullah bin ‘Amru Radhiyallahu 'anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm melarang berjual beli di dlm masjid. [HR Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-i & Ibnu Majah].

Seorang pedagang juga harus tahu barang apa saja nan dilarang diperjual-belikan. Misalnya, minuman keras, bangkai, anjing, babi & lainnya. Dasarnya ialah hadits Abu Hurairah z bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَثَمَنَهَا وَحَرَّمَ الْمَيْتَةَ وَثَمَنَهَا وَحَرَّمَ الْخِنْزِيرَ وَثَمَنَهُ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr & mengharamkan hasil jual beli khamr, mengharamkan bangkai & hasil jual beli bangkai, & mengharamkan babi serta mengharamkan hasil jual beli babi”. (*5)

Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ثَمَنُ الخَمْرِ حَرَامٌ, وَمَهْرُ البَغْيِ حَرَامٌ, وَثَمَنُ الكَلْبِ حَرَامٌ, وَ الكُوْبَةُ حَرَامٌ, وَإِنْ أَتَاكَ صَاحِبُ الكَلْبِ يَلْتَمِسُ ثَمَنَهُ فَأَمْلَأ يَدَيْهِ تُرَابًا وَ الخَمْرُ وَ المَيْسِرُ وَ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Hasil penjualan khamr haram, hasil melacur haram, hasil penjualan anjing haram, main dadu haram. Apabila pemilik anjing datang kepadamu meminta hasil penjualan anjingnya, maka sesungguhnya ia telah memenuhi kedua tangannya dgn tanah. Khamr, judi & setiap minuman nan memabukkan adalah haram”. (*6)

Seorang pedagang juga dilarang berlaku curang dlm timbangan & takaran. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ {1} الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُواْ عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ {2} وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang nan curang, (yaitu) orang-orang nan apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, & apabila mereka menakar atau menimbang utk orang lain, mereka mengurangi”. [Muthaffifiin:1-3].

Semua itu hanya dapat diketahui dgn ilmu. Dan masih banyak lagi perkara lain nan berkaitan dgn larangan-larangan dlm jual beli nan harus diketahui seorang pedagang, baik menyangkut waktu, tempat, barang, etika & tata caranya.

Sebagai pegawai, seseorang juga harus mengetahui apa saja nan dilarang berkaitan dgn pekerjaannya. Misalnya, seorang pegawai dilarang mengambil hadiah saat tugas atau dinas, karena hal itu termasuk ghulul (komisi) nan diharamkan. Diriwayatkan dari Abu Humaid As Saa'idi Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah berkata:

هَدَايَا العُمَّال غُلُوْلٌ

“Hadiah bagi para amil (pegawai) termasuk ghulul (*7) [Hadits shahih. Telah dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaani dlm Irwaaul Ghalil 2622].

Tentu saja, bila seseorang tak mengetahui hal-hal tersebut ia bisa terjatuh ke dlm perkara haram.

Kedua: Takwa.

Takwa adalah sebaik-baik bekal. Pedagang, pegawai atau apapun profesinya harus memiliki bekal takwa. Secara umum Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan & mengancam para pedagang dgn sabda Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

التُّجَّارُ هُمُ الفُجَّارُ

“Para pedagang itu kebanyakannya orang-orang fajir”. (*8)

Pedagang nan fajir, yaitu pedagang nan tak mengindahkan rambu-rambu syariat. Sehingga ia jatuh ke dlm larangan-larangan, seperti bersumpah palsu utk melariskan dagangan, menipu, khianat, curang & lain-lain.
Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm memuji pedagang nan jujur lagi bertakwa. Abu Sa'id Al Khudri Radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

التَّاجِرُ الصَّدُوْقُ الأَمِيْنُ مَعَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ

“Pedagang nan jujur lagi terpercaya akan bersama para nabi, kaum shiddiq & para syuhada”. [HR At Tirmidzi, Al Hakim, & Ad Darimi.

JADI, KEJUJURAN DAN AMANAH MERUPAKAN BUAH DARI TAKWA

Demikian pula pegawai, harus berbekal takwa. Maraknya kasus-kasus korupsi, suap-menyuap, kecurangan, merupakan akibat hilangnya ketakwaan. Sehingga membuat seseorang menjadi gelap mata saat melihat gemerlap dunia.

Sebagian orang ada nan berprinsip, carilah harta sebanyak-banyaknya meski dgn cara-cara nan haram, seperti korupsi, suap, penipuan, kecurangan & lainnya. Nanti setelah terkumpul harta nan banyak, baru berbuat baik, bersedekah & lain sebagainya. Prinsip & anggapan seperti ini jelas salah. Sebab Allah Maha Baik & tak menerima, kecuali nan baik-baik.

Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَمَعَ مَالاً حَرَامًا ثُمَّ تَصَدَّقَ بِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ وَ كَانَ إِصْرُهُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa mengumpulkan harta haram kemudian menyedekahkannya, maka ia tak memperoleh pahala darinya & dosanya terbebankan pada dirinya”. (*9)

Sedekah & kebaikannya itu tak bernilai sedikit pun di sisi Allah. Dia tetap terbebani dosa karena telah mengumpulkan harta melalui cara nan haram. Jadi, anggapan seperti di atas jelas keliru.
Demikianlah 2 perkara penting nan harus dimiliki, yaitu ilmu & ketakwaan. Jadilah pedagang atau pegawai nan berilmu & bertakwa, sebab ilmu & takwa itu merupakan kunci kesuksesan dlm mencari rezeki nan halal lagi baik.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Referensi
(*1). Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (3239 & 3241), Al Hakim (II/4), Al Baihaqi (V/264 & 265), Abu Nu'aim dlm Al Hilyah (III/156-157) dari jalur Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir.
(*2). Hadits riwayat Al Bukhaari (2431) & Muslim (1070), ada penyerta lain dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu.
(*3). Kata-kata utk menegur anak-anak dari kotoran. Maksudnya, buang & keluarkanlah benda itu
(*4). HR Bukhari (1491) & Muslim (1069).
(*5). Hadits shahih, diriwayatkan Abu Dawud (3485) & nan lainnya.
(*6). Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ath Thabraani dlm Al Kabir (12601) secara lengkap. Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud (3482), Ahmad (I/274-278 & 289-350) & Ath Thayaalisi (2755) secara terpisah.
(*7). Ghulul, artinya mengambil harta nan bukan haknya secara khianat.
(*8). Dishahihkan oleh Al Albaani dlm Silsilah Ahaadiits Ash Shahihah, jilid pertama.
(*9). Hadits shahih lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (3367) dari jalur Darraj Abu Samah dari Ibnu Hujairah dari Abu Hurairah.


sumber: www.almanhaj.or.id penulis Ustadz Abu Ihsan Al Atsari Al Maidani tags: Alaihi Wa Sallam, Abu Hurairah, Cara Cara