Rabu, 25 Januari 2012

10 Kaidah Menuju Istiqamah..

Istiqamah, sebuah perkara yang sangat didambakan setiap muslim. Karena hanya dengan istiqamah di atas iman dan islam hingga akhir hayat, seorang hamba akan menuai kebahagiaan hakiki di dunia dan di akherat.
Berikut ini sepuluh kaidah menuju istiqomah, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua…

Pertama

Saudaraku seiman, perlu diketahui bahwasanya istiqamah semata-mata merupakan karunia dari Allah. Dia memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, bagi siapa saja yang dia kehendaki. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Allah mengajak (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus” (QS. Yunus: 25).
Bahkan tidak kurang dari 17 kali dalam sehari semalam, kita memohon istiqamah melalui ayat dalam Al Fatihah, “Ihdinash shirathal mustaqim”. Jika seorang hamba meyakini hal ini, maka ia akan mengikatkan hatinya kepada Allah Ta’ala, dengan senantiasa berdoa agar diberikan istiqamah dalam menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua

Ketahuilah bahwasanya hakikat istiqamah yaitu berkomitmen di atas jalan Allah Ta’ala. Dia berfirman (yang artinya), “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)

Ketiga

Ketahuilah bahwasanya istiqamah yang paling pokok ialah istiqamahnya hati. Jika hati seorang hamba istiqamah maka anggota badan yang lain pun akan istiqamah. Diriwayatkan dari shahabat Anas radhiyallaahu ‘anhu secara marfu’, “Tidak akan istiqamah (dengan sempurna, pent) keimanan seorang hamba sampai hatinya istiqamah, dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah sampai lisannya bisa istiqamah.” (HR. Ahmad). Terdapat ungkapan pula dalam bahasa Arab, Al mar’u bi asghoroihi, seseorang itu tergantung dengan dua anggota tubuh kecilnya, yaitu hati dan lisan.

Keempat

Ketahuilah bahwasanya istiqamah yang dituntut yaitu as saddad, yaitu berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan sunnah Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam dengan sebaik-baiknya. Apabila kita tidak mampu, maka berusahalah untuk mendekati sunnah tersebut. Sebagaimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wa qaaribu wa saddidu” (HR. Muslim). Yaitu maknanya berusahalah semaksimal mungkin dalam menetapi suatu amalan, namun jika tidak mampu maka minimal berusahalah untuk mendekati hal tersebut (yaitu mengerjakannya dengan sedikit namun kontinyu –pen).

Kelima

Istiqamah itu berkaitan dengan perkataan, perbuatan, dan juga niat. Artinya seluruh anggota tubuh kita dituntut agar selalu istiqamah. Lantas bagaimana upaya kita untuk mencapainya? Jawabannya terdapat dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu, terdapat sekerat daging yang apabila baik, maka baik pula seluruh tubuhnya, dan jika rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, sekerat daging itu ialah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al Khudry, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika anak Adam memasuki waktu pagi, maka seluruh anggota tubuhnya berpesan kepada lisan seraya berkata, ‘Bertaqwalah kepada Allah karena kami bergantung padamu. Jika engkau lurus, kamipun ikut lurus dan jika engkau bengkok, maka kamipun ikut bengkok” (HR. Tirmidzi). Sesungguhnya seluruh amal perbuatan kita hanyalah mengikuti hati dan lisan kita, jika hati dan lisan baik, maka seluruh anggota tubuh akan baik pula. Maka perhatikanlah hal ini, saudaraku.

Keenam

Istiqamah harus dilakukan lillah, billah, wa ‘ala amrillah. Lillah yaitu dilakukan ikhlas karena Allah, semata-mata mengharap wajah Allah Ta’ala (yang artinya). “Maka istiqamahlah kalian kepada-Nya” (QS. Fushilat : 6). Allah memerintahkan kita untuk istiqamah, yang artinya bahwa istiqamah termasuk bagian dari ibadah. Ibadah tidak akan diterima melainkan dengan ikhlas. Billah, bahwasanya istiqamah hanya dapat dilakukan dengan mengharap pertolongan dari Allah Ta’ala.

Oleh karena itu sebelum kita meminta istiqamah, terlebih dahulu kita meminta pertolongan Allah, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” Hanya kepadaMu-lah kami beribadah dan hanya kepadaMu-lah kami memohon pertolongan. Allah Ta’ala juga berfirman, “Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya” (QS. Hud : 123). Perintah untuk bertawakkal menunjukkan perintah untuk senantiasa memohon pertolongan kepada Allah. Terakhir, ‘ala ‘amrillah, harus sesuai dengan syariat Allah. “Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana apa yang telah diperintahkan kepadamu” (QS. Hud : 112).

Ketujuh

Seseorang yang telah mampu mencapai derajat istiqamah, tidak boleh merasa hebat dengan amalannya, tertipu dengan amalannya, dan ujub (bangga). Namun hendaknya ia senantiasa bersandar kepada Allah, bersungguh-sungguh, dan berharap kepada Allah agar amalan-amalannya diterima. “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun : 60). Dalam ayat ini Allah katakan bahwa setelah orang-orang mukmin tersebut beramal shalih, justru hati mereka merasa takut, yaitu takut jika amalan mereka tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

Kedelapan

Barangsiapa yang Allah beri petunjuk untuk istiqamah selama di dunia, maka Allah akan memberinya istiqamah pula ketika melewati ash shirath, yaitu jembatan yang dibentangkan di atas permukaan api neraka. Sesuai dengan kadar istiqamahnya selama di dunia, seperti itulah kadar istiqamahnya ketika melewati jembatan tersebut. Maka kemampuan setiap orang berbeda-beda tatkala melewati ash shirath, ada yang melesat seperti petir, ada yang seperti angin, kuda, unta, dalam keadaan berlari, berjalan, bahkan ada yang terlempar ke dalam api neraka.
Oleh karena itu saudaraku, ingatlah bahwa hasil jerih payah kita selama di dunia untuk istiqamah akan terganjar di akhirat kelak. Semakin kita mampu untuk istiqamah selama di dunia, semakin kita mampu untuk istiqamah dalam melewati ash shirath kelak.

Kesembilan

Bahwasanya hal-hal yang dapat menghalangi seseorang dari istiqamah ada dua, yaitu syubhat dan syahwat. Syubhat berkaitan dengan aqidah dan pemikiran yang menyimpang, dan syahwat berkaitan dengan hawa nafsu. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan “Rasulullah membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaithan yang menyeru kepadanya.” (HR. Ahmad dan Nasa’i, shahih). Garis-garis di kanan kiri itulah syubhat dan syahwat yang selalu menghalangi seseorang dari istiqamah. Oleh karena itulah kita harus waspada terhadap kedua hal ini. Semoga Allah senantiasa memberi kita kemampuan untuk menjauhi penyakit syubhat dan syahwat.

Kesepuluh

Diantara bentuk keluar dari istiqamah ialah tasyabbuh (meniru-niru) kaum Yahudi dan Nasrani. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud, shahih). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Niscaya kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai sekiranya mereka masuk kedalam lubang Dhob (sejenis biawak) tentu kamu akan mengikuti mereka” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini menunjukkan betapa “bersemangatnya” kaum muslimin dalam mengikuti tradisi kaum Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu ketika kita membaca surat Al Fatihah, “Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah : 6-7), ketahuilah bahwasanya orang-orang yang dimurkai ialah kaum Yahudi, dan orang-orang yang sesat ialah kaum Nasrani.
Kaum Yahudi dimurkai karena mereka memiliki kitab, memiliki ilmu, namun tidak diamalkan. Sedangkan kaum Nasrani dimurkai karena mereka ahli ibadah, namun tanpa diiringi dengan ilmu hingga terjerumus dalam berbagai bentuk tata cara ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah Ta’ala (lihat Tafsir Ibnu Katsir). Oleh karena itu diantara bentuk menghindari tasyabbuh dengan kedua golongan tersebut, ialah berilmu dan mengamalkan ilmu tersebut.

(diringkas dari ceramah Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, yang diterjemahkan oleh Ustadz Firanda Andirja, Lc., MA hafizhahumallahu ta’ala, dengan penambahan dari makalah Ustadz Muhammad Nur Ihsan, MA “Sepuluh Kaidah Menuju Istiqamah”) [Yhouga Ariesta*]

MANFAAT RASA MALU..

Rasulullah SAW bersabda, ”Hendaklah kamu merasa malu kepada Allah SWT
dengan malu yang sebenarnya.” Para sahabat menjawab, ”Ya Nabiyullah,
alhamdulillah kami sudah merasa malu.” Kata Nabi, ”Tidak segampang itu.
Yang dimaksud dengan malu kepada Allah SWT dengan sebenarnya malu adalah kemampuan kalian memelihara kepala beserta segala isinya, memelihara perut dan apa yang terkandung di dalamnya, banyak-banyak mengingat mati dan cobaan (Allah SWT). Siapa yang menginginkan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang telah mengamalkan demikian, maka demikianlah malu yang sebenarnya kepada Allah SWT.” (HR Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud).

Hadis tersebut menggambarkan betapa besarnya manfaat rasa malu dalam
mengontrol kehidupan seorang Muslim. Mulai dari cara berpikir dan apa yang
dipikirkan, cara menjaga perut dari makanan haram, sampai sikap hidup yang
senantiasa ingat pada kematian, bisa dimasukkan sebagai refleksi dari rasa malu kepada Allah SWT.

Semakin tinggi rasa malu seseorang kepada Allah SWT, semakin terjaga ia dari
perbuatan salah, semakin terpelihara ia dari makanan haram, dan semakin ingat ia akan kefanaan dunia yang melenakan. Sebaliknya, semakin hilang rasa malu pada seseorang, semakin tak terkontrol perilakunya, semakin terbiasa dengan makanan haram, dan semakin lupa dengan akhirat.

Nabi Muhammad SAW pernah menjelaskan bahwa memelihara rasa malu kepada Allah SWT akan mendatangkan kebaikan, baik bagi orang yang memeliharanya maupun bagi orang lain. Sabda beliau, ”Malu tak akan datang kecuali dengan kebaikan.” (HR Muslim dari Imran ibn Husein). Dengan kata lain, rasa malu akan mendidik seorang Muslim untuk menjaga perilaku, sikap, maupun ucapan.

Menurut Buya Mawardi Muhammad dalam Kitab Jawahir Alhadits, rasa malu merupakan sesuatu yang mencegah seorang Mukmin dari perbuatan dosa lantaran takut kepada Allah SWT. Ada ataupun tidak ada orang lain yang melihat, ia tetap berpegang pada keyakinan bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya. Dia akan senantiasa menyadari bahwa tak ada satu ruang pun yang luput dari pengamatan Allah SWT.

Sedangkan kalau malu hanya berpatokan pada pandangan manusia, maka hal itu akan melahirkan manusia-manusia yang bersikap munafik. Di depan banyak orang, dia akan bersikap baik, santun, ramah, dan sebagainya. Begitu tidak terlihat banyak manusia, dia akan berkhianat, korupsi, menyengsarakan orang lain, serta melakukan kejahatan lainnya.

Rasa malu merupakan identitas bagi setiap Muslim. Rasulullah SAW bersabda, ”Bagi setiap agama ada akhlak. Akhlak agama Islam adalah malu.” (HR Malik dari Zaid ibn Thalhah). Artinya, rasa malu merupakan bagian yang tak boleh terpisahkan dari diri setiap Muslim.

Begitu hilang rasa malunya, maka hilang pula kepribadiannya sebagai seorang
Muslim. Ia akan terbiasa berbuat dosa, baik terang-terangan maupun  tersembunyi. Makanya, sangat wajar jika Rasulullah SAW murka terhadap orang yang tak punya rasa malu.

TANDA KHUSNUL KHATIMAH

Meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan husnul khatimah merupakan dambaan setiap insan yang beriman, karena hal itu sebagai bisyarah, kabar gembira dengan kebaikan untuknya. Al-Imam Al-Albani rahimahullahu menyebutkan beberapa tanda husnul khatimah dalam kitabnya yang sangat bernilai Ahkamul Jana`iz wa Bida’uha. Berikut ini kami nukilkan secara ringkas untuk pembaca yang mulia, disertai harapan dan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita termasuk orang-orang yang mendapatkan husnul khatimah dengan keutamaan dan kemurahan dari-Nya. Amin!

1: Mengucapkan syahadat ketika hendak meninggal.

Dengan dalil hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menyampaikan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad yang hasan [1])

2: Meninggal dengan keringat di dahi.
 
Buraidah ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu ketika berada di Khurasan menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Didapatkannya saudaranya ini menjelang ajalnya dalam keadaan berkeringat di dahinya. Ia pun berkata, “Allahu Akbar! Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Meninggalnya seorang mukmin dengan keringat di dahi.” (HR. Ahmad, An-Nasai, dll. Sanad An-Nasai shahih di atas syarat Al-Bukhari)

3: Meninggal pada malam atau siang hari Jum’at.

Dengan dalil hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, beliau menyebutkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad, At-Tirmidz)

4: Syahid di medan perang.
 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka dan mereka beriang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang masih berjihad di jalan Allah) yang belum menyusul mereka. Ketahuilah tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Ali Imran: 169-171)
Dalam hal ini ada beberapa hadits:
 
a. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bagi orang syahid di sisi Allah ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, aman dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan perhiasan iman, dinikahkan dengan hurun ‘in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad yang shahih)
 
b . Salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan: Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa kaum mukminin mendapatkan fitnah (ditanya) dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah (ujian).” (HR. An-Nasa`i dengan sanad yang shahih)

5: Meninggal di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.” Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.” “Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat. Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit tha’un maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid.” (HR. Muslim)

6: Meninggal karena penyakit tha’un.

Selain disebutkan dalam hadits di atas juga ada hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tha’un adalah syahadah bagi setiap muslim.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tha’un, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadanya: “Tha’un itu adalah adzab yang Allah kirimkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Maka Allah jadikan tha’un itu sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Siapa di antara hamba (muslim) yang terjadi wabah tha’un di tempatnya berada lalu ia tetap tinggal di negerinya tersebut dalam keadaan bersabar, dalam keadaan ia mengetahui tidak ada sesuatu yang menimpanya melainkan karena Allah telah menetapkan baginya, maka orang seperti ini tidak ada yang patut diterimanya kecuali mendapatkan semisal pahala syahid.” (HR. Al-Bukhari)

7: Meninggal karena penyakit perut, karena tenggelam, dan tertimpa reruntuhan.

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

8: Meninggalnya seorang ibu dengan anak yang masih dalam kandungannya.

Berdasarkan hadits Ubadah ibnush Shamit radhiyallahu ‘anhu. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa syuhada dari umatnya di antaranya: “Wanita yang meninggal karena anaknya yang masih dalam kandungannya adalah mati syahid, anaknya akan menariknya dengan tali pusarnya ke surga.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, dan Ath-Thayalisi dan sanadnya shahih)

9: Meninggal dalam keadaan berjaga-jaga (ribath) fi sabilillah.

Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu menyebutkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan ketika masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rizkinya serta aman dari fitnah (pertanyaan kubur).” (HR. Muslim)

10: Meninggal dalam keadaan beramal shalih.

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih)

11: Meninggal karena mempertahankan hartanya yang ingin dirampas orang lain.
 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka ia syahid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu bila datang seseorang ingin mengambil hartaku?” Beliau menjawab, “Jangan engkau berikan hartamu.” Ia bertanya lagi, “Apa pendapatmu jika orang itu menyerangku?” “Engkau melawannya,” jawab beliau. “Apa pendapatmu bila ia berhasil membunuhku?” tanya orang itu lagi. Beliau menjawab, “Kalau begitu engkau syahid.” “Apa pendapatmu jika aku yang membunuhnya?” tanya orang tersebut. “Ia di neraka,” jawab beliau. (HR. Muslim)

12: Meninggal karena membela agama dan mempertahankan jiwa/membela diri.
 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Siapa yang meninggal karena mempertahankan hartanya maka ia syahid, siapa yang meninggal karena membela keluarganya maka ia syahid, siapa yang meninggal karena membela agamanya maka ia syahid, dan siapa yang meninggal karena mempertahankan darahnya maka ia syahid.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, dan At Tirmidzi dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu dan sanadnya shahih)

Wallahu a’lam bishshawab.

1. Penghukuman hadits ini dari Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam kitab yang sama.
2. Satu pendapat menyebutkan bahwa tha’un adalah luka-luka semacam bisul bernanah yang biasa muncul di siku, ketiak, tangan, jari-jari dan seluruh tubuh, disertai dengan bengkak serta sakit yang sangat. Luka-luka itu keluar disertai rasa panas dan menghitam daerah sekitarnya, atau menghijau ataupun memerah dengan merah lembayung (ungu) yang suram. Penyakit ini membuat jantung berdebar-debar dan memicu muntah. (Lihat Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 14/425) Penjelasan lain tentang tha’un bisa dilihat dalam Fathul Bari, 10/222,223) -pent.

KEMAKSIATAN DAN PENGARUHNYA..


Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Rahman dan Rahim, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sholawat serta salam kita haturkan kepada Rosulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir hayatnya.



Sesungguhnya jika seorang hamba melakukan dosa, maka terbentuklah noda hitam dalam hatinya. Jika ia melepaskan dosa, istighfar dan taubat, bersihlah hatinya. Ketika mengulangi dosa lagi, bertambahlah noda hitamnya, sehingga menguasai hati. Itulah Roon (rona) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (HR At-Tirmidzi).

Maksiat dan dosa mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan umat manusia. Bahayanya bukan hanya berpengaruh di dunia tetapi sampai dibawa ke akhirat. Bukankah Nabi Adam a.s. dan istrinya Siti Hawwa dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke dunia karena dosa yang dilakukannya? Dan demikianlah juga yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

Disebabkan karena dosa, penduduk dunia pada masa Nabi Nuh a.s. dihancurkan oleh banjir yang menutupi seluruh permukaan bumi. Karena maksiat, kaum ‘Aad diluluhlantakkan oleh angin puting beliung. Karena ingkar pada Allah, kaum Tsamud ditimpa oleh suara yang sangat keras memekakkan telinga sehingga memutuskan urat-urat jantung mereka dan mati bergelimpangan. Karena perbuatan keji kaum Luth, buminya dibolak-balikkan dan semua makhluk hancur, sampai malaikat mendengar lolongan anjing dari kejauhan. Kemudian diteruskan dengan hujan bebatuan dari langit yang melengkapi siksaan bagi mereka. Dan kaum yang lain akan mendapatkan siksaan yang serupa. Jika tidak terjadi di dunia, maka di akhirat akan lebih pedih lagi. (Al-An’am: 6)

Desember 2005 duniapun telah menyaksikan musibah yang maha dahsyat terjadi di Asia: Tsunami menghancurkan ratusan ribu umat manusia. Terbesar menimpa Aceh. Semua itu harus menjadi pelajaran yang mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa Allah Maha Kuasa. Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad dari hadits Ummu Salamah, Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Jika kemaksiatan sudah mendominasi umatku, maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya”. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang-orang shalih?” Rasulullah menjawab,”Betul.” “Lalu bagaimana dengan mereka?” Rasul menjawab, “Mereka akan mendapat musibah sama dengan yang lain, kemudian mereka mendapatkan ampunan dan keridhaan Allah.”

Akar Kemaksiatan

Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang besar maupun yang kecil, bermuara pada tiga hal.  
Pertama; terikatnya hati pada selain Allah,
kedua; mengikuti potensi marah, dan  
ketiga; mengikuti hasrat syahwat.


Ketiganya adalah syirik, zhalim, dan keji. Puncak seseorang terikat pada selain Allah adalah syirik dan menyeru pada selain Allah. Puncak seseorang mengikuti amarah adalah membunuh; dan puncak seseorang menuruti syahwat adalah berzina. Demikianlah Allah swt. menggabungkan pada satu ayat tentang sifat ‘Ibadurrahman, ”Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (Al-Furqaan: 68)

Dan ciri khas kemaksiatan itu saling mengajak dan mendorong untuk melakukan kemaksiatan yang lain. Orang yang berzina maka zina itu dapat menyebabkan orang melakukan pembunuhan; dan pembunuhan dapat menyebabkan orang melakukan kemusyrikan. Dan para pembuat kemaksiatan saling membantu untuk mempertahankan kemaksiatannya. Setan tidak akan pernah diam untuk menjerumuskan manusia untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Setan senantiasa mengupayakan tempat-tempat yang kondusif untuk menjadi sarang kemaksiatan.

Oleh karena itu agar terhindar dari jebakan kemaksiatan, manusia harus melakukan perlawanan dari ketiganya, yaitu:
pertama; menguatkan keimanan dan hubungan hati dengan Allah swt. dengan senantiasa mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya karena Allah. 
Kedua; mengendalikan rasa marah, karena marah merupakan pangkal sumber dari kezhaliman yang dilakukan oleh manusia. Dan
ketiga; menahan diri dari syahwat yang menggoda manusia sehingga tidak jatuh pada perbuatan zina.

Pengaruh Maksiat

Seluruh manusia mengakui bahwa kesalahan yang terkait dengan hubungan antar manusia di dunia secara umum dapat mengakibatkan kerusakan secara langsung. Orang-orang yang membabat hutan hingga gundul akan menyebabkan kerusakan lingkungan, longsor, dan kebanjiran. Sopir yang mengendalikan mobilnya secara ugal-ugalan dan melintasi rel kereta yang dilalui kereta, berakibat sangat parah, ditabrak oleh kereta. Orang yang membunuh orang tanpa hak, maka dia akan senantiasa dalam kegelisahan dan penderitaan. Orang yang senantiasa bohong, hidupnya tidak akan merasa tenang.

Dan pada dasarnya pengaruh kesalahan, dosa, dan kemaksiatan bukan saja yang terkait antar sesama manusia, tetapi antara manusia dengan Allah. Siapakah orang yang paling zhalim, ketika mereka diberi rezki oleh Allah dan hidup di bumi Allah kemudian menyekutukan Allah, tidak mentaati perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya. Jika kesalahan yang dibuat antar sesama manusia akan menimbulkan bahaya, maka kesalahan akibat tidak melaksanakan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya, maka akan lebih berbahaya lagi, di dunia sengsara dan di akhirat disiksa. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”


Beberapa pengaruh maksiat diantaranya:

1. Lalai dan keras hati
Al-Qur’an menyebut bahwa orang-orang yang bermaksiat hatinya keras membatu. “Karena mereka melanggar janjinya, kami kutuki mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka Telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ma-idah: 13)
Berkata Ibnu Mas’ud r.a., “Saya menyakini bahwa seseorang lupa pada ilmu yang sudah dikuasainya, karena dosa yang dilakukan.”

Orang yang banyak berbuat dosa, hatinya keras, tidak sensitif, dan susah diingatkan. Itu suatu musibah besar. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa orang yang senantiasa berbuat dosa, hatinya akan dikunci mati, sehingga keimanan tidak dapat masuk, dan kekufuran tidak dapat keluar.

2. Terhalang dari ilmu dari rezeki
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dilakukannya” (HR Ibnu Majah dan Hakim)
Berkata Imam As-Syafi’i, “Saya mengadu pada Waqi’i tentang buruknya hafalanku. Beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.

Orang yang banyak melakukan dosa waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang sepele dan tidak berguna. Tidak untuk mencari ilmu yang bermanfaat, tidak juga untuk mendapatkan nafkah yang halal. Banyak manusia yang masuk dalam model ini. Banyak yang menghabiskan waktunya di meja judi dengan menikmati minuman haram dan disampingnya para wanita murahan yang tidak punya rasa malu. Sebagian yang lain asyik dengan hobinya. Ada yang hobi memelihara burung atau binatang piaraan yang lain. Sebagian lain, ada yang hobi mengumpulkan barang antik meski harus mengeluarkan biaya tak sedikit. Sebagian yang lain hobi belanja atau sibuk bolak-balik ke salon kecantikan. Seperti itulah kualitas hidup mereka.

3. Kematian hati dan kegelapan di wajah
Berkata Abdullah bin Al-Mubarak, “Saya melihat dosa-dosa itu mematikan hati dan mewariskan kehinaan bagi para pelakunya. Meninggalkan dosa-dosa menyebabkan hidupnya hati. Sebaiknya bagi dirimu meninggalkannya. Bukankah yang menghancurkan agama itu tidak lain para penguasa dan ahli agama yang jahat dan para rahib.”

Sungguh suatu musibah besar jika hati seseorang itu mati disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukannya. Dan perangkap dosa yang dikejar oleh mayoritas manusia adalah harta dan kekuasaan. Mereka mengejar harta dan kekuasaan seperti laron masuk ke kobaran api unggun.

Tanda seorang bergelimangan dosa terlihat di wajahnya. Wajah orang-orang yang jauh dari air wudhu dan cahaya Al-Qur’an adalah gelap tidak enak dipandang.

4. Terhalang dari penerapan hukum Allah
Penerapan hukum Allah berupa syariat Islam di muka bumi adalah rahmat dan karunia Allah dan memberikan keberkahan bagi penduduknya. Ketika masyarakat banyak yang melakukan kemaksiatan, maka mereka akan terhalang dari rahmat Islam tersebut. (Lihat Al-Maa-idah: 49 dan Al-A’raaf: 96)

5. Hilangnya nikmat Allah dan potensi kekuatan
Di antara nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan dan kemenangan. Sejarah telah membuktikan bahwa pertolongan Allah dan kemenangan-Nya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Sebaliknya, kekalahan dan kehancuran disebabkan karena maksiat dan ketidaktaatan.

Kisah Perang Uhud harus menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ketika sebagian pasukan perang sibuk mengejar harta rampasan dan begitu juga pasukan pemanah turun gunung ikut memperebutkan harta rampasan. maka terjadilah musibah luar biasa. Korban berjatuhan di kalangan umat Islam. Rasulullah saw. pun berdarah-darah.

Kisah penghancuran Kota Baghdad oleh pasukan Tartar juga terjadi karena umat Islam bergelimang kemaksiatan. Khilafah Islam pun runtuh, selain dari faktor adanya konspirasi internasional yang melibatkan Inggris, Amerika Serikat, dan Israel, karena umat Islam berpecah belah dan kemaksiatan yang mereka lakukan.

Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang: ”Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”

Oleh karena itu umat Islam dan para pemimpinnya harus berhati-hati dari jebakan-jebakan cinta dunia dan ambisi kekuasaan. Jauhi segala harta yang meragukan apalagi yang jelas haramnya. Karena harta yang syubhat dan meragukan, tidak akan membawa keberkahan dan akan menimbulkan perpecahan serta fitnah. Kemaksiatan yang dilakukan oleh individu, keluarga, dan masyarakat akan menimbulkan hilangnya nikmat yang telah diraih dan akan diraih. Dan melemahkan segala potensi kekuatan. WASPADALAH!

Quoted from : www.dakwatuna.com