Sebenar yg harus kita ni’mati
dalam hidup ini adl proses. Mengapa? Karena yg bernilai dalam hidup ini
ternyata adl proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu Allah yg
menetapkan tapi bagi kita punya kewajiban untuk meni’mati dua perkara yg
dalam aktivitas sehari-hari harus kita jaga yaitu selalu menjaga tiap
niat dari apapun yg kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan
ikhtiar yg dilakukan selebih terserah Allah SWT.
Seperti para mujahidin yg berjuang membela bangsa dan agama sebetul
bukan kemenangan yg terpenting bagi mereka krn menang-kalah itu akan
selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yg paling penting bagi adalah
bagaimana selama berjuang itu niat benar krn Allah dan selama berjuang
itu akhlak juga tetap terjaga. Tidak akan
rugi orang yg mampu seperti ini sebab ketika dapat mengalahkan lawan
berarti dapat pahala kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada. Ketika
jualan dalam rangka mencari nafkah utk keluarga maka masalah yang
terpenting bagi kita bukanlah uang dari jualan itu krn uang itu ada
jalur ada rizki dari Allah dan semua pasti mendapatkannya. Karena kalau
kita mengukur kesuksesan itu dari untung yg didapat maka akan gampang
sekali bagi Allah utk memusnahkan untung yg didapat hanya dalam waktu
sekejap.
Dibuat musibah menimpa dikenai bencana hingga akhir semua untung yg
dicari berpuluh-puluh tahun bisa sirna seketika. Walhasil yg terpenting
dari bisnis dan ikhtiar yg dilakukan adl prosesnya. Misal bagaimana
selama berjualan itu kita selalu menjaga niat agar tak pernah ada satu
miligram pun hak orang lain yg terambil oleh kita bagaimana ketika
berjualan itu kita tampil penuh keramahan dan penuh kemuliaan akhlak
bagaimana ketika sedang bisnis benar-benar dijaga kejujuran kita tepat
waktu janji-janji kita penuhi. Dan keuntungan bagi kita ketika sedang
berproses mencari nafkah adl dgn sangat menjaga nilai-nilai perilaku
kita.
Perkara uang sebenarya tak usah terlalu dipikirkan krn Allah Mahatahu
kebutuhan kita lbh tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tak akan
terangkat oleh keuntungan yg kita dapatkan tapi kita akan terangkat oleh
proses mulia yg kita jalani. Ini perlu dicamkan baik-baik bagi siap pun
yg sedang bisnis bahwa yg termahal dari kita adl nilai-nilai yg selalu
kita jaga dalam proses. Termasuk ketika kuliah bagi para pelajar kalau
kuliah hanya meni’mati hasil ataupun hanya ingin gelar bagaimana kalau
meninggal sebelum diwisuda? Apalagi kita tak tahu kapan akan meninggal.
Karena yg paling penting dari perkuliahan ta dulu pada diri mau apa dgn
kuliah ini?
Kalau hanya utk mencari isi perut kata Imam Ali “Orang yg pikiran
hanya pada isi perut maka derajat dia tak akan jauh beda dgn yg keluar
dari perutnya”. Kalau hanya ingin cari uang hanya tok uang maka asal
tahu saja penjahat juga pikiran hanya uang. Bagi kita kuliah adl suatu
ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita meningkat. Kita menuntut ilmu
supaya tambah luas ilmu hingga akhir hidup kita bisa lbh meningkat
manfaatnya. Kita tingkatkan kemampuan salah satu tujuan adl agar dapat
meningkatkan kemampuan orang lain.
Kita cari nafkah sebanyak mungkin
supaya bisa mensejahterakan orang lain. Dalam mencari rizki ada dua
perkara yg perlu selalu kita jaga ketika sedang mencari kita sangat jaga
nilai-nilai dan ketika dapat kita distribusikan sekuat-kuatnya. Inilah
yg sangat penting. Dalam perkuliahan niat kita mau apa nih? Kalau mau
sekolah mau kuliah mau kursus selalu tanyakan mau apa nih?
Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda krn belum tentu
kita masih hidup ketika kursus selesai. Ah Sahabat. Kalau kita selama
kuliah selama sekolah selama kursus kita jaga sekuat-kuat mutu
kehormatan nilai kejujuran etika dan tak mau nyontek lalu kita meninggal
sebelum diwisuda? Tidak ada masalah krn apa yg kita lakukan sudah jadi
amal kebaikan. Karena jangan terlalu terpukau dgn hasil. Saat melamar
seseorang kita harus siap menerima kenyataan bahwa yg dilamar itu belum
tentu jodoh kita.
Persoalan kita sudah datang ke calon mertua sudah bicara baik-baik
sudah menentukan tanggal tiba-tiba menjelang pernikahan ternyata ia
mengundurkan diri atau akan menikah dgn yg lain. Sakit hati sih wajar
dan manusiawi tapi ingat bahwa kita tak pernah rugi kalau niat sudah
baik cara sudah benar kalaupun tak jadi nikah
dgn dia. Siapa tahu Allah telah menyiapkan kandidat lain yg lbh cocok.
Atau sudah daftar mau pergi haji sudah dipotret sudah manasik dan sudah
siap utk berangkat tiba-tiba kita menderita sakit sehingga batal utk
berangkat. Apakah ini suatu kerugian? Belum tentu! Siapa tahu ini
merupakan ni’mat dan pertolongan dari Allah krn kalau berangkat haji
belum tentu mabrur mungkin Allah tahu kapasitas keimanan dan kapasitas
keilmuan kita.
Oleh sebab itu sekali lagi jangan terpukau oleh hasil krn hasil yg
bagus menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan Allah. Kalau
misal kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yg mampu kita kelola.
Suatu saat Allah memberikan untung satu milyar nah untung ini justru
bisa jadi musibah buat kita. Karena tiap datang rizki akan efektif kalau
iman kita bagus dan kalau ilmu kita bagus. Kalau tak datang uang datang
gelar datang pangkat datang kedudukan yg tak dibarengi kualitas pribadi
kita yg bermutu sama dgn datang musibah.
Ada orang yg hina gara-gara dia punya kedudukan krn kedudukan tak
dibarengi dgn kemampuan mental yang bagus jadi petantang-petenteng jadi sombong
jadi sok tahu maka dia jadi nista dan hina krn kedudukannya. Ada orang
yg terjerumus bergelimang maksiat gara-gara dapat untung. Hal ini karena
ketika belum dapat untung akan susah ke tempat maksiat krn uang juga
tak ada tapi ketika punya untung sehingga uang melimpah-ruah tiba-tiba
dia begitu mudah mengakses tempat-tempat maksiat. Nah Sahabat. Selalulah
kita ni’mati proses.
Seperti saat seorang ibu membuat kue lebaran ternyata kue lebaran yg
hasil begitu enak itu telah melewati proses yg begitu panjang dan lama.
Mulai dari mencari bahan-bahan memilah-milah menyediakan peralatan yg
pas hingga memadukan dgn takaran yg tepat dan sampai menunggui di open.
Dan lihatlah ketika sudah jadi kue baru dihidangkan beberapa menit saja
sudah habis. Apalagi biasa tak dimakan sendirian oleh yg membuatnya.
Bayangkan kalau orang membuat kue tadi tak meni’mati proses membuat dia
akan rugi krn dapat capek saja krn hasil proses membuat kue pun habis
dgn seketika oleh orang lain. Arti ternyata yg kita ni’mati itu bukan
sekedar hasil tapi proses.
Begitu pula ketika ibu-ibu punya anak lihatlah prosesnya. Hamil
sembilan bulan sungguh begitu berat tidur susah berbaring sulit berdiri
berat jalan juga limbung masya Allah. Kemudian saat melahirkan pun berat
dan sakit juga setengah mati. Padahal setelah si anak lahir belum tentu
balas budi. Sudah perjuangan sekuat tenaga melahirkan sewaktu kecil
ngencingin ngeberakin sekolah ditungguin cengeng luar biasa di SD tak
mau belajar {bahkan yg belajar yg mengerjakan PR justru malah ibunya}
dan si anak malah jajan saja saat masuk SMP mulai kumincir masuk SMU
mulai coba-coba jatuh cinta. Bayangkanlah kalau semua proses mendidik
dan mengurus anak itu tak pakai keikhlasan maka akan sangat tak
sebanding antara balas budi anak dgn pengorbanan ibu bapaknya.
Bayangkan pula kalau menunggu anak berhasil sedangkan proses sudah
capek setengah mati seperti itu tiba-tiba anak meninggal naudzhubillah
apa yg kita dapatkan? Oleh sebab itu bagi para ibu ni’matilah proses
hamil sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mengurus anak pusing
ngadat- dan rewel anak sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mendidik
anak menyekolahkan anak dgn penuh jerih payah dan tetesan keringat
sebagai ladang amal. Jangan pikirkan apakah anak mau balas budi atau tak
sebab kalau kita ikhlas menjalani proses ini insya Allah tak akan
pernah rugi. Karena memang rizki kita bukan apa yg kita dapatkan tapi
apa yg dgn ikhlas dapat kita lakukan.
Sumber : file chm bundel Tausyiah Manajemen Qolbu Aa Gym
Jangan Suuzon .. Berpikirlah positif dan Belajarlah melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.. Berhati-hatilah ketika mengeluarkan kata-kata, mungkin buat kita itu hanya sebuah gurauan belaka, tapi tidak kepada yang mendengarnya.
Sabtu, 20 April 2013
Kamis, 28 Maret 2013
Keutamaan Sedekah
Diantara keutamaan bersedekah antara lain:
1. Sedekah dapat menghapus dosa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)
Adapun dalam hal diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar ‘impas’ tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari makar Allah, yang merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99)
2. Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:
رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)
3. Memberi keberkahan pada harta.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)
Apa yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi ‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.”
4. Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
5. Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah.
من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة
“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)
6. Menjadi bukti keimanan seseorang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
والصدقة برهان
“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim no.223)
An Nawawi menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”
7. Membebaskan dari siksa kubur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور
“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)
8. Sedekah dapat mencegah pedagang melakukan maksiat dalam jual-beli
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يا معشر التجار ! إن الشيطان والإثم يحضران البيع . فشوبوا بيعكم بالصدقة
“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)
9. Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan yang bagus tentang orang yang dermawan dengan orang yang pelit:
مثل البخيل والمنفق ، كمثل رجلين ، عليهما جبتان من حديد ، من ثديهما إلى تراقيهما ، فأما المنفق : فلا ينفق إلا سبغت ، أو وفرت على جلده ، حتى تخفي بنانه ، وتعفو أثره . وأما البخيل : فلا يريد أن ينفق شيئا إلا لزقت كل حلقة مكانها ، فهو يوسعها ولا تتسع
“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (HR. Bukhari no. 1443)
Dan hal ini tentu pernah kita buktikan sendiri bukan? Ada rasa senang, bangga, dada yang lapang setelah kita memberikan sedekah kepada orang lain yang membutuhkan.
Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang mengabarkan tentang manfaat sedekah dan keutamaan orang yang bersedekah. Tidakkah hati kita terpanggil untuk bersedekah? Semoga dimudahkan ya akhiy, ukhty…
Minggu, 17 Maret 2013
HIDUP
H.I.D.U.P.
Hidup bukan tentang seberapa besar kesalahan kita di masa lalu, tapi tentang bagaimana kita memperbaiki diri dan kuat menjalani hari.
Hidup terlalu singkat untuk mencemaskan hal kecil.
Nikmati apa yang kita miliki hari ini, bukan apa yang mungkin kita miliki esok hari.
Dan jangan sesali apa yang telah pergi, kita mungkin kehilangan sesuatu yang baik, tapi kita juga mungkin mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi.
SEMANGAT
Hidup bukan tentang seberapa besar kesalahan kita di masa lalu, tapi tentang bagaimana kita memperbaiki diri dan kuat menjalani hari.
Hidup terlalu singkat untuk mencemaskan hal kecil.
Nikmati apa yang kita miliki hari ini, bukan apa yang mungkin kita miliki esok hari.
Dan jangan sesali apa yang telah pergi, kita mungkin kehilangan sesuatu yang baik, tapi kita juga mungkin mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi.
SEMANGAT
Sabar Terhadap Ujian
Ketahuilah, ujian dan cobaan di dunia
merupakan sebuah keharusan, siapa pun tidak bisa terlepas darinya.
Bahkan, itulah warna-warni kehidupan. Kesabaran dalam menghadapi ujian
dan cobaan merupakan tanda kebenaran dan kejujuran iman seseorang kepada
Allah SWT
Maka perlu kita sadari sesungguhnya
ujian dan cobaan yang datang bertubi-tubi menerpa hidup manusia
merupakan satu ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Tidak satu pun diantara kita yang mampu menghalau ketentuan tersebut.
Keimanan, keyakinan, tawakkal dan
kesabaran yang kokoh amatlah sangat kita butuhkan dalam menghadapi badai
cobaan yang menerpa. Sehingga tidak menjadikan diri kita berburuk
sangka kepada Allah SWT terhadap segala Ketentuan-Nya. Juga kitapun
tidaklah pantas pula memiliki sifat dan watak yang gemarnya bersuudzon
kepada sesama, apalagi kepada Sang Pencipta..
Oleh karena itu, dalam keadaan apapun,
kita sebagai hamba yang beriman kepada Allah SWT harus senantiasa
berbaik sangka kepada Allah. Dan haruslah diyakini bahwa tidaklah Allah
menurunkan berbagai musibah melainkan sebagai ujian atas keimanan yang
kita miliki.
Allah sebagaimana tertulis dalam firman-Nya : “Apakah
kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum
datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu
sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul
dan orang-orang yang bersamanya :
“Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)
Kesabaran merupakan perkara yang amat
dicintai oleh Allah dan sangat dibutuhkan seorang muslim dalam
menghadapi ujian atau cobaan yang dialaminya. Sebagaimana dalam
firman-Nya :
“…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Al Imran : 146)
Doa dalam kesabaran hidup, Dengan nama Allah
yang maha Pemurah lagi maha Mengasihani. Segala puji bagi Allah, Tuhan
semesta alam. Yang maha pemurah lagi maha mengasihani. Yang menguasai
hari pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada
Engkau kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Iaitu
jalan orang-orang yang Engkau kurniakan nikmat kepada mereka, bukan
jalan mereka yang Engkau murkai dan bukan jalan mereka yang sesat.
Namun akan tetapi terkadang kita sebagai
manusia selalu tidak pernah menyadari bahwa kita selalu
senangnya membatasi apa yang dimaksud dengan kesabaran, dan terkadang
kita sendiri seringkali memeta-metakan bentuk dari segala kesabaran,
padahal Allah SWT tidak pernah memiliki dan berkendak untuk membatasi
sebuah arti penting dan tindakan atas kesabaran itu sendiri.
Dan akan tetapi Allah SWT dengan segala firmannya yang tertera didalam Al-Qur’an tentang kesabaran adalah :
a). Sabar dari meninggalkan kemaksiatan
karena takut ancaman Allah, Kita harus selalu berada dalam keimanan dan
meninggalkan perkara yang diharamkan. Yang lebih baik lagi adalah,
sabar dari meninggalkan kemaksiatan karena malu kepada Allah. Apabila
kita mampu muraqabah (meyakini dan merasakan Allah sedang melihat dan
mengawasi kita) maka sudah seharusnya kita malu melakukan maksiat,
karena kita menyadari bahwa Allah SWT selalu melihat apa yang kita
kerjakan. Sebagaimana tertulis dalam firman-Nya, di surah Al Hadid ayat 4
” …….. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”
b). Tingkatan sabar yang kedua adalah
sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, dengan terus-menerus
melaksanakannya, memelihara keikhlasan dalam mengerjakannya dan
memperbaikinya. Dalam menjalankan ketaatan, tujuannya hanya agar amal
ibadah yang dilakukan diterima Allah, tujuannya semata-mata ikhlas
karena Allah SWT.
Ada Beberapa Hal Yang Akan Menuntun Seorang Hamba Untuk Bisa Sabar Dalam Menghadapi Ujian Dan Cobaan, Sebagai Berikut :
1). Sebaiknya kita merenungkan dosa-dosa
yang telah kita lakukan. Dan Allah menimpakan ujian atau
musibah-musibah tersebut mungkin disebabkan dosa-dosa kita .
Sebagaimana firman Allah SWT :
“Dan apa saja musibah yang menimpa
kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah
memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syuro : 30).
Apabila seorang hamba menyadari bahwa
musibah-musibah yang menimpa disebabkan oleh dosa-dosanya. Maka dia akan
segera bertaubat dan meminta ampun kepada Allah dari dosa-dosa yang
telah dilakukannya
Dan Nabi Muhammad saw bersabda: “Tak
seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau
yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah
menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya
sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Jadi ujian dan cobaan, bisa sebagai
penggugur dosa-dosa kita dan juga untuk mengangkat kita ke derajat
keimanan yang lebih tinggi.
2). Kita harus menyakini dengan
seyakin-yakinnya, bahwa Allah selalu ada bersama kita. Dan Allah telah
memberikan jaminan untuk kita dalam surah Al Baqarah ayat 286, bahwa “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
Dan Allah cinta dan ridha kepada orang yang sabar. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya :
“Dan sabarlah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ” (QS Al Anfal : 46)
“…Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS.Al Imran : 146)
Bersabarlah maka kita akan melihat betapa dekatnya kelapangan
Barangsiapa yang muraqabah (merasa diawasi) Allah dalam seluruh urusan, ia akan menjadi hamba Allah yang sabar dan berhasil melalui ujian apapun dalam hidupnya. Kesabaran yang didapatkan ini, berdasarkan pada petunjuk Allah dalam Al Quran, surah At Thur ayat 48 : “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri, dan ketahuilah, bahwa barangsiapa yang mengharapkan Allah, maka Allah akan ada dimana dia mengharap.”
3). Kita harus mengetahui bahwa jika
kita bersabar, maka akan mendatangkan ridha Allah, karena ridha Allah
SWT, terdapat dalam kesabaran kita, terhadap segala ujian dan ketentuan
takdir-Nya, yang kurang kita sukai.
“Dan sesungguhnya akan Kami berikan
cobaan kepadamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar. Yaitu mereka yang apabila tertimpa musibah mengucapkan, ‘Kami
berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya” (QS 2:155-156).
Sabar memiliki kedudukan tinggi
yang mulia dalam pandangan Allah SWT. Oleh karena itu, Al Imam Ibnul
Qayyim mengatakan bahwa sabar setengah dari keimanan dan setengahnya
lagi adalah syukur. Lebih jelasnya, akan diuraikan beberapa penyebutan ash-shabr dalam Al Qur’an dengan uraian yang ringkas sebagai berikut:
Sabar merupakan perintah Mulia dari Rabb Yang Maha Mulia, dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,..” (QS. Al-Baqarah: 153)
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,..” (QS. Al-Baqarah: 153)
pada ayat yang lain Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu,..… (QS.Ali Imran: 200)
Jadi jelaslah bahwa dari ke
dua ayat diatas menerangkan bahwa sabar merupakan perintah dari Allah
SWT. Sabar termasuk ibadah dari ibadah-ibadah yang Allah wajibkan kepada
hamba-Nya. Terlebih lagi, Allah SWT kuatkan perintah sabar tersebut
dalam ayat yang kedua. Barangsiapa yang memenuhi kewajiban itu, berarti
ia telah menduduki derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.
Nah mari kita sama-sama berusaha untuk mencoba
renungkan, bukankah kita selalu mampu untuk bisa sabar dalam menerima
ujian-Nya yang berupa nikmat hidup ?. Maka sudah seharusnya kita juga
harus bisa sabar dalam menerima unjian-Nya yang berupa kehilangan nikmat
hidup, istilahnya, jangan mau terima yang enak-enak saja. Karena yang
enak itu belum tentu nikmat untuk dirasakan dalam hidup, dan justru bisa
menjadikan racun serta jurang yang membahayakan kita dalam hidup yang
sesungguhnya.
Jadi kita sebaiknya harus bisa bersabar
dalam menghadapi segala macam ujian dalam hidup kita, terutama setelah
kita mengetahui keutamaan besar yang Allah SWT janjikan bagi hamba-Nya
yang bersabar.
sumber: Syaiful Ad
Langganan:
Postingan (Atom)